Kamis, 02 Desember 2010

Lingkungan Ternak


1. Jelaskan pengaruh lingkungan abiotik terhadap parameter fisiologis ( frekuensi denyut jantung, frekuensi nafas, suhu tubuh )
2. Jelaskan pengaruh lingkungan abiotik terhadap tingkah laku ternak
3. Di negara maju, industri peternakan modern berkembang sangat pesat, namun perkembangan ini menjadi issue negative yang penting bagi pemanasan global ( Global warming). Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini ??? Jelaskan.. !
4. Coba jelaskan bagaimana kita ingin mengetahui daya tahn panas seekor ternak / bangsa ternak. !!
5. Seorang peternak ingin beternak sapi perah yang berasal dari daerah dingin, masalahnya peternak tersebut tinggal didaerah dekat pantai yang temperatur lingkungannya panas. Apa tindakan Anda sebagai seorang pakar peternakan dalam merealisaikan keinginan peternak tersebut tanpa mempengaruhi produktivitas sapi perah tersebut .

1. Pada Kisaran suhu thermonetral, hampir semua pengaturan suhu tubuh hewan homeothermis dilakukan dengan mekanisme fisik dan fisiologis. Diantaranya dipengaruhi oleh perubahan-perubahan perilaku yang dikontrol oleh hypotalamus anterior yang diyakini sebagai reseptor pengindera untuk regulasi suhu tubuh.
Pada ternak sapi, respon perilaku juga berbeda-beda di antara bangsa-bangsa seperti sapi. Bangsa sapi Eropa (beriklim dingin) tidak membutuhkan pengaturan perilaku guncangan suhu lingkungan antara 2 s/d 21 oC, sedangkan untuk sapi Brahman yang berasal dari daerah tropis kisaran tersebut adalah antara 10-27 oC. Cekaman panas pada suhu 30 oC selama 7-10 jam terhadap bangsa sapi asal daerah beriklim dingin menyebabkan panting, salivasi, berkeringat, denyut jantungnya kencang, Mengalami peningkatan frekuensi pernafasan disetiap menitnya dan ternak yang memiliki rambut sedikit, seperti ternak kerbau dan babi, berperilaku sering berteduh dalam menghadapi suhu lingkungan yang tinggi untuk menstabilkan suhu tubuhnya.

2. Pada Lingkungan abiotik, yaitu khususnya pada suhu lingkungan tinggi, adaptasi adalah ditujukan untuk mempermudah pengeluaran panas dan konservasi air.
Semua jenis ternak (mamalia maupun unggas) pada dasarnya adalah hewan “diurnal” yang aktif pada siang hari. Pada keadaan suhu lingkungan yang tinggi, ternak-ternak tersebut dapat menjadi “nocturnal”, seperti yang terjadi di kawasan yang beriklim tropis maupun sub-tropis. Demikian pula, mereka imimnya menurunkan aktifitas lainnya di siang hari, seperti berkelahi, dan metubah postur tubunya yang mempermudah pengekuaran panas dengan radiasi, konveksi dan konduksi.
Pada umumnya, ternak cenderung untuk menempati lingkungan mikro yang paling nyaman (confortable) bagi dirinya. Hewan-hewan yang hidup di pegunungan menggunakan tempat-tempat berbatu untuk menahan hembusan angin yang kuat, sementara hewan-hewan ternak mencari termpat beristirahat di bawah naungan pohon atau dalam kandang.
Perilaku yang di tunjukkan oleh ternak dengan menegakkan dan menggerak-gerakkan bulu sekitar punggung, kepala dan sayap (gular flatter), sehingga menviptakan rongga-rongga dan pergerakan udara di antar bulu-bulu, perilaku lainnya ditunjukkan dengan menjauhi sinar matahari langsung, untuk menghadapi cekaman panas pada unggas kedua sayap nampak agak dikembangkan dan sedikit terpisah dari tubuhnya, sehingga udara dapat bersirkulasi dengan baik di seluruh permukaan tubuh, unggas juga biasa menunjukkan perilaku berbaring dengan kepala dan leher diluruskan ke depan sejajar permukaan tanah atau duduk di permukaan tanah.

3. Klo menurut saya berdasarkan tinjauan FAO bahwa pengaruh metana dan gas rumah kaca lainnya dalam periode waktu 100 tahun akan membuat efek dari CO2 menjadi lebih menonjol dan efek metana lebih berkurang. Dalam waktu 100 tahun, metana hanya 25 kali lebih panas daripada CO2 dalam kaitannya dengan potensi pemanasan global. Secara kontras, artikel “Peternakan dan Perubahan Iklim” mengevaluasi pengaruh metana dalam periode waktu 20 tahun yang mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih besar daripada CO2, dan dalam periode waktu 5 tahun metana 100 kali lebih panas daripada CO2.

4. Untuk mengetahui daya tahan panas terhadap ternak dapat ditinjau dari ketebalan kulit rambut/ bulu dan lapisan-lapisannya yang bervariasi pada spesies yang berbeda. Unta memiliki kulit yang lebih keras dan tebal dibandingkan sapi, dan sapi memiliki kulit yang lebih tebal dibandingkan domba.

5. Sebagai pakar peternakan kita harusnya meninjau berdasarkan ilmu klimatology, terdapat beberapa tipe klasifikasi iklim. Karakteristik utama iklim dari suatu daerah ditentukan oleh ketinggian tempat dari permukaan laut (altitude), posisi pada garis lintang (latitude) dan posisi relatifnya dari garis pantai, pegunungan dan ciri-ciri lainnya. Berdasarkan pengaliran energi, beberapa unsur klimatik yang prinsipal adalah radiasi, suhu udara, angin, tekanan uap air atau kelembaban dan tekanan atmosfir.
Tindakan yang selayaknya dilakukan, yaitu dengan memindahkan ternak tersebut di ketinggian tempat dari permukaan laut guna menghindari penambahan enerji (panas) dari radiasi lebih besar dari enerji (panas) yang di pancarkan tubuh.

Namun bisa saja tanpa dipindahkan, namun melakukan penyesuaian struktur kandang sesuai dengan lingkungannya terdahulu. Contoh; jika suhu lantai kandang lebih rendah dari suhu permukaan tubuh, maka tubuh ternak akan kehilangan panas. Jika ternak berbaring pada lantai mampu menghilangkan panas dari langkah ini ternak dapat terhindar dari suhu yang extrim di pantai sehingga tidak menimbulkan cekaman stress yang bisa mempengaruhi produktifitas. Berkeringat merupakan cara tubuh mengeluarkan kelebihan panas dengan evaporasi air. Proses evaporasi ini tidak terjadi melalui kelenjar keringat, tetapi juga merupakan proses fisika dari tubuh yang memiliki tekanan jenuh uap air ke lingkungan sekitar yang tidak jenuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

welcome